Minggu, 26 Februari 2012

analisis kasus Sumanto


Sumanto                                                
Sang Kanibal dari Purbalingga
Sumanto, begitulah laki-laki berumur 31 tahun lalu itu dinamakan. Orang tuanya, Mulya Wikarta (67 tahun) dan Samen (60), tak pernah ‘bermimpi’ anaknya akan tumbuh menjadi seorang kanibal - yang memakan tubuh tetangganya sendiri. Namun, pada Selasa (14/1) malam lalu, Wikarta justru dikejutkan dengan ‘mimpi buruk’, ketika polisi membekuk Sumanto sebagai pencuri mayat wanita tua, dan dinyatakan memakan daging mayat tersebut. Celakanya lagi, karena tidak tahu sang ayah juga ikut makan bersama anaknya, setelah potongan daging Mbah Rinah dibakar oleh Sumanto.
Peristiwa tersebut mulai terkuak ketika berita hilangnya mayat seorang nenek berusia 81 tahun yang belum sampai 24 jam dikubur di kuburan Desa Mojotengah, Kemangkon, Purbalingga, Jawa Tengah. Warga setempat geger karena kuburan Mbah Rinah sudah acak-acakan. Mereka lebih dibuat geger lagi ternyata mayat Mbah Rinah sudah raib. Berita tersebut segera menyebar sampai ke desa tetangga. Malahan ada yang membumbuinya dengan hal-hal yang berbau mistis sehingga membuat warga desa ‘terteror.’ Kaum perempuan tak berani tidur sendirian, para lelaki melakukan ronda sampai pagi. Ketegangan baru berakhir saat polisi membekuk Sumanto di rumahnya sekitar lima kilo meter dari makam Mbah Rinah. Sumanto rupanya teledor. Ia tak memperhitungkan ‘sisa’ mayat yang ia tanam di depan rumahnya bakal menyebarkan bau busuk. Warga yang mencium aroma tak sedap curiga, lalu melapor ke polisi.
Sumanto tak berkutik karena polisi menemukan potongan tubuh dan tulang-tulang Mbah Rinah di rumahnya. Selain itu Polisi juga mendapati tengkorak manusia, dua alat vital laki - laki dalam botol. Kepada Polisi Sumanto mengaku dirinya sedang memperdalam ilmu di bawah bimbingan seorang ‘guru.’ Dengan memakan mayat badannya akan menjadi kebal, tak terluka oleh goresan senjata, dan mendapat ketenangan batin.
Perburuan Sumanto terhadap mayat Mbah Rinah dimulai sejak Sabtu (11/1) pukul 19 00 WIB. Saat itu ia mulai menggali kuburan Mbah Rinah yang telah diamatinya sejak sore. Kain kafan pembungkus mayat Mbah Rinah yang dimakamkan Sabtu siang itu, baru berhasil ia sentuh pada Minggu pukul dua dini hari. Hal itu dikarenakan pembongkaran kuburan ia lakukan dengan tangan kosong tanpa menggunakan alat bantu. Setelah mayat Mbah Rinah dikeluarkan dari liang kubur, kain kafan yang membalutnya dilucuti dan ditinggalkan begitu saja. Mayat kemudian dimasukkan ke dalam karung plastik lalu diangkut dengan sepeda onthel menuju rumahnya yang berjarak sekitar 1,7 km.
Sesampainya di rumah, Sumanto memotong alat vital Mbah Rinah dan membungkusnya dengan kain merah. Saat ia ditangkap Polisi menemukan bungkusan kain merah itu di saku bajunya. Selanjutnya, ia memotong-motong mayat seperti orang memotong daging ayam. Lantas dipotong-potong sebagian dibakar, dimasak dengan kuali dan sebagian dimakan mentah-mentah.
Saat rekonstruksi kasus ini dilaksanakan pada pada Sabtu (18/1) pagi, warga tampak histeris dan merasa jijik. Meski alat peraga dalam rekonstruksi itu hanyalah daging dan tulang sapi mentah, Sumanto tampak antusias melahapnya. Meski rekontruksi dilakukan pagi pukul 06.30, namun rekonstruksi tersebut mendapat perhatian luas dari masyarakat sekitarnya. "Sengaja kita lakukan rekonstruksi pagi-pagi sekali untuk menghindari kerumunan warga. Namun kenyataannya, masyarakat tetap banyak yang melihat. Untungnya, rekontsruksi berlangsung lancar," kata Kapolres Purbalingga, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Agus Sofyan Abadi, saat mempimpin acara tersebut. Tak hanya itu, ternyata ini bukan pertama kalinya Sumanto ‘menikmati’ daging manusia. Sumanto mengaku bahwa sebelumnya ia telah memakan tiga tubuh manusia selain Mbah Rinah. Korban pertama yang ia makan adalah seorang perampok yang semula akan membegalnya. Perampok itu sempat duel dengan Sumanto. Ia berhasil membunuhnya dan kemudian memakan daging tubuhnya mentah-mentah. Peristiwa kedua adalah korban kecelakaan kereta api. Ketika dia berjalan di pinggir rel di sekitar daerah Rajabasah, ia menemukan potongan kaki manusia. Seketika itu ia makan mentah-mentah. Kemudian kejadian ketiga adalah seorang begal yang juga berhasil ia bunuh. Begal itu kemudian dimakan Sumanto bersama temannya yang ia lupa namanya. Korban ketiga ini, kemudian ia ambil penisnya dan dijadikan kalung.
Hanya saja saja polisi belum percaya begitu saja dengan pengakuan Sumanto. Pasalnya, seluruh empat korban itu, belum termasuk dengan misteri keberadaan Mistam si tukang pijat yang hilang setelah memijat Sumanto. Pakaian Mistam sendiri, berhasil ditemukan di rumah Sumanto. Kemudian, keberadaan seorang bocah usia belasan warga Mandiraja Banjarnegara, yang juga dilaporkan hilang setelah bermain di sekitar rumah Sumanto. Atas perkembangan pemeriksaan tersebut, Kapolres Agus Sofyan Abadi meminta kepada masyarakat sekitar untuk melapor ke polisi jika merasa kehilangan angota keluarganya.
Melihat perbuatannya yang ‘kelewat-lewat’, sejumlah warga menduga Sumanto tak waras. Namun tampaknya dugaan itu keliru. Menurut Kapolres Purbalingga Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Agus Sofyan Abadi, saat diperiksa polisi Sumanto menjawab pertanyaan dengan lancar, tak berbelit-belit. Setelah diperiksa oleh tim psikologi Polda Jawa Tengah, Sumanto dinyatakan sebagai psikopat. Semua perbuatan Sumanto, dilakukan secara sadar bahkan dengan pertimbangan yang matang. "Misalnya untuk kasus mencuri mayat Mbah Rinah dan kemudian memakannya, semuanya sudah disiapkan, sudah direncanakan. Sumanto melakukan semua itu dalam keadaan sehat dan sadar," kata AKBP Purnomo, ketua tim pemeriksa Sumanto yang juga Kadis Psikologi Polda Jateng. Untuk memastikan apakah Sumanto benar-benar waras atau tidak, sejak Kamis lalu Polisi mengirimnya ke RSUD Banyumas selama 14 hari.
Perilaku miring Sumanto diduga berawal dari pengalaman Sumanto selama merantau ke Lampung. Saat di Lampung itu Sumanto bertemu dengan searang guru spiritual yang bernama Taslim. Taslim mengajarkan bahwa memakan mayat manusia dapat memberikannya kesaktian dan kekayaan. Kata Purnomo, waktu ia berada di Lampung terjadi perubahan perilaku yang cukup signifikan. "Artinya, pengalaman-pengalaman itu telah membuat Sumanto seperti telah menemukan dunianya yang baru. Dia tidak lagi memperhatikan asas norma kelaziman seperti makan daging mentah bahkan daging manusia. Ini kan tidak lazim, tapi Sumanto dengan sadar melakukannya," kata Purnomo.
Entah apa yang Sumanto rasakan ketika ia mengunyah daging korban-korbannya. Namun, paling sedikit, empat tubuh telah dilahapnya. Dalam rapat desa, warga Desa Plumutan telah sepakat untuk mengusir si kanibal dari desa. Tak hanya itu, mereka menuntut aparat untuk menghukum Sumanto dengan hukuman seberat-beratnya. Paling tidak, saat ini warga desa dapat kembali tidur dengan tenang.
Lain halnya dengan Mulya Wikarta dan Ny Samen, orang tua Sumanto. Mereka harus menahan malu akibat ulah anak mereka. Bukan salah mereka menamakan anak mereka Sumanto. Bukan salah mereka, jika orang menafsirkan Sumanto menjadi kepanjangan dari Suka MAkaN Tubuh Orang. (Indra Darma -- TNR/dari berbagai sumber)


Namun apakah Sumanto benar-benar seorang psikopat sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim psikologi Polda Jawa Tengah???

Untuk mengetahuinya mari kita coba untuk sesuaikan dengan ciri-ciri abnormal berikut:
1.  Disfungsi Psikologis: dimana seseorang tidak mampu untuk menjalani peran atau fungsinya dalam  kehidupannya atau ke sehari-hariannya.
    Kognitifnya: Yaitu saat Sumanto mencuri mayat wanita tua berusia 81 tahun yang bernama Mbah Rinah, ia sudah mengamati kuburan Mbah Rinah sejak sore hari dan ia mulai menggali kuburan Mbah Rinah pada pukul 19.00. Kain kafan pembungkus mayat Mbah Rinah baru ia dapat sentuh pada Minggu pukul dua dini hari. Hal itu di karenakan pembongkaran kuburan yang ia lakukan dengan tangan kosong tanpa menggunakan alat bantu. Namun Sumanto “teledor” karena sisa potongan mayat yang dikubur di depan rumahnya menimbulakan bau busuk sehingga warga curiga.

   Afektifnya: saat Sumanto memotong-motong mayat tersebut  dan memakannya tidak ada perasaan apapun yang ia rasakan saat melakukannya. Bahkan ketika ia memotong mayat seperti orang sedang memotong daging ayam. selain itu, ketika ia menemukan sepotong kaki saat berjalan di rel, ia langsung memakan kaki tersebut

    Psikomotorik: Sumanto merupakan seseorang yang sehat secra fisik, sebab saat ia didatangi perampok, ia dapat memenangkan perkelaihan tersebut dan memakan daging perampok tersebut mentah-mentah.

Jadi, dari ketiga aspek diatas Sumanto tidak mengalami disfungsi psikologis, sebab kognitifnya ia dapat membongkar kuburan Mbah Rinah dengan direncanakan secara matang. Afektifnya, ia tidak merasakan hal apapun setelah memotong-motong mayat tersebut, dan psikomotoriknya ia sehat.

2.  Impairment (hendaya): seseorang yang menunjukkan pada keadaan dimana ia merusak dirinya baik    secara fisik ataupun psikologis. 
    Secara fisik, tidak ada gejala-gejala yang muncul, sebab ketika ia memotong-motong mayat tersebut ia seperti orang yang sedang memotong daging ayam.

    Secara psikologis, semua perbuatan Sumanto, dilakukan secara sadar bahkan dengan pertimbangan yang matang. "Misalnya untuk kasus mencuri mayat Mbah Rinah dan kemudian memakannya, semuanya sudah disiapkan, sudah direncanakan. Sumanto melakukan semua itu dalam keadaan sehat dan sadar,". Namun dari beberapa kasus yang ia lakukan hanya kasus Mbah Rinah saja yang ketauan. Hal ini dikarenakan keteledoran Sumanto yang menguburkan sisa potongan di depan rumahnya sehingga menimbulkan bau busuk dan membuat wraga sekitar curiga.  Hanya kasus Mbah Rinah yang dilakukan rekonstruksi oleh polisi sedangkan kasus yang lainnya tidak ketauan hanya Sumanto yang memberikan pengakuan.   

3. Respon Actipical: merupakan sesuatu yang tidak diharapkan terkait dengan budaya.
    - Pada kasus ini, sumanto mengaku pada pihak kepolisian bahwa dirinya sedang memperdalam     ilmu di bawah bimbingan seorang ‘guru.’ Dengan memakan mayat badannya akan menjadi kebal, tak terluka oleh goresan senjata, dan mendapat ketenangan batin.
     -  Perilaku sumanto ini diduga berawal dari pengalaman Sumanto selama merantau ke Lampung. Saat di Lampung itu Sumanto bertemu dengan seorang guru spiritual yang bernama Taslim. Taslim mengajarkan bahwa memakan mayat manusia dapat memberikannya kesaktian dan kekayaan.
     - Perilaku sumanto yang memakan mayat itu merupakan sesuatu yang tidak wajar dan menurut ajaran agama manapun tidak ada yang mengajarkan untuk memakan daging manusia.

Kesimpulannya:
Berdasarkan hasil analisis di atas, menurut saya sumanto melakukan pembongkaran kuburan dan memakan daging manusia itu hanya karena ia ingin mempunyai kekebalan tubuh, kekayaan dan ketenangan batin. Dan ia tidak termasuk pada gangguan abnormal sebab dari ketiga ciri-ciri abnormal diatas tidak memenuhi kategori seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan abnormalitas.

Referensi:
http://www.tempo.co.id/harian/profil/prof-sumanto.html (diunggah pada tanggal 24 februari 2012)
 


Minggu, 19 Februari 2012

Identifikasi Kasus Psikologi Abnormal


Identifikasi Kasus Psikologi Abnormal
Sebelum kita dapat menentukan apakah seseorang tersebut dapat dikatakan normal atau abnormal, hendaknya kita perlu mengetahui beberapa ciri atau kriteria mengenai perilaku normal dan perilaku abnormal itu sendiri. 

Berikut beberapa ciri atau kriteria yang dapat membedakan antara perilaku normal dan perilaku abnormal:

Beberapa ciri orang yang sehat-Normal:

Aspek Penyesuaian Diri
Ciri Perilaku
Sikap terhadap diri sendiri
Menunjukan penerimaan diri; memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
Persepsi terhadap realitas
Memiliki pandangan yang realistis terhadap diri sendiri dan terhadap dunia orang maupun benda di sekelilingnya.
Integrasi
Bekepribadian utuh, bebas drai konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stress.
Kompetensi
Memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai problema hidup.
Otonomi
Memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri (self-determination, self direction) yang memadai disertai kemempuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
Pertumbuhan aktualisasi diri
Menunjukan kecenderungan ke arah menjadi semakin matang, kemampuannya, dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi.

Dan beberapa kriteria abnormalitas yaitu: 
  • Penyimpangan dari norma-norma statistik
Abnormal merupakan sesuatu yang tidak lazim, atau secara harafiah yang menyimpang dari norma. Hal ini disebabkan karena hampir setiap kepribadian dapat kita gambarkan seperti sebuah kurva normal dimana terdapat dua arah yaitu kanan yang berarti positif dan kiri yang berarti negatif. Sebagai contoh, seperti sifat agresif dimana semakin jauh dari nilai rata-rata baik arah kiri maupun kanan, kita dapat menemukan agresifitas yang ekstreem (rendah atau tinggi), yang keduanya mempunyai motivasi negatif. Namun kriteria ini tidak cocok atau tidak sesuai untuk kepribadian lain seperti intelegensi sebab kendati sama-sama abnormal namun sifat genius jelas mempunyai nilai positif. Sedangkan sifat idiot mempunyai nilai negatif. 
  • Penyimpangan dari norma sosial
Menurut kriteria ini, sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. Dimana apa saja yang umum atau lazim adalah sesuatu yang normal. Terkadang di masyarakat terdapat suatu patokan yang pengandaiannya masih di ragukan kebenarannya. Pengandaian tersebut adalah apa yang dilakukan oleh mayoritas atau sebagian besar masyarakat maka hal itu selalu dikatakan baik dan benar.
  • Gejala “salah suai” (maladjusment)
Abnormalitas di pandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik dan sosial. Hal semacam ini jelas bersifat negatif, yang berarti tidak memperhitungkan bahwa individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa memanfaatkan atau mengembangkan kemampuannya. Tidak sedikit orang yang di bilang “berhasil” dalam menjalani hidup, namun sebagai pribadi tidak berkembang secara maksimal.
  • Tekanan batin
Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih, atau perasaan bersalah yang mendalam. Namun ini bukan merupakan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal. Jika tekanan batin yang dirasakannya tak berkesudahan, mungkin merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi bila ada seseorang merasa sedih karena terkena musibah, kekecewaan itu normal. Dan bila ada seseorang yang merasa gembira setelah ditinggal oleh orang yang disayangi, maka seseorang tersebut ddapat dikatan aneh sebab ia bersikap tidak wajar.
  • Ketidakmatangan
Seseorang dapat dikatakan abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya. Namun terkadang kita sering sulit untuk menemukan patokan tentang kemetangan itu sendiri. 

Untuk dapat lebih memahami mengenai ciri-ciri normal dan abnormal, berikut terdapat contoh kasus:

Landa berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotekstif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.

Menurut kamu kasus di atas termasuk dalam normal atau abnormal ???

Okee, kita coba bahas dengan kriteria atau ciri-ciri yang telah dijelaskan sebelumnya...

Dari contoh kasus di atas kita dapat mengidentifikasi bahwa Landa termasuk dalam perilaku abnormal sebab Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Landa masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin yang telah dipaparkan sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu, kriteria yang berikutnya yaitu Gejala “salah suai” (maladjusment) yang di sebabkan oleh ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif. Sehingga subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotekstif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun mungkin tidak banyak dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.

Referensi:
Ardani Ardi Tristiadi, M. Si. Psi. 2011. “Psikologi Abnormal”. Bandung: Lubuk Agung