Identifikasi Kasus Psikologi Abnormal
Sebelum
kita dapat menentukan apakah seseorang tersebut dapat dikatakan normal atau
abnormal, hendaknya kita perlu mengetahui beberapa ciri atau kriteria mengenai
perilaku normal dan perilaku abnormal itu sendiri.
Berikut
beberapa ciri atau kriteria yang dapat membedakan antara perilaku normal dan
perilaku abnormal:
Beberapa ciri orang yang sehat-Normal:
|
Aspek Penyesuaian Diri
|
Ciri Perilaku
|
|
Sikap
terhadap diri sendiri
|
Menunjukan
penerimaan diri; memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki
penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
|
|
Persepsi
terhadap realitas
|
Memiliki
pandangan yang realistis terhadap diri sendiri dan terhadap dunia orang
maupun benda di sekelilingnya.
|
|
Integrasi
|
Bekepribadian
utuh, bebas drai konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi
yang baik terhadap stress.
|
|
Kompetensi
|
Memiliki
kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai
untuk mengatasi berbagai problema hidup.
|
|
Otonomi
|
Memiliki
kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri (self-determination, self direction) yang memadai disertai
kemempuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
|
|
Pertumbuhan
aktualisasi diri
|
Menunjukan
kecenderungan ke arah menjadi semakin matang, kemampuannya, dan mencapai
pemenuhan diri sebagai pribadi.
|
Dan beberapa
kriteria abnormalitas yaitu:
- Penyimpangan dari norma-norma statistik
Abnormal
merupakan sesuatu yang tidak lazim, atau secara harafiah yang menyimpang dari
norma. Hal ini disebabkan karena hampir setiap kepribadian dapat kita gambarkan
seperti sebuah kurva normal dimana terdapat dua arah yaitu kanan yang berarti
positif dan kiri yang berarti negatif. Sebagai contoh, seperti sifat agresif
dimana semakin jauh dari nilai rata-rata baik arah kiri maupun kanan, kita
dapat menemukan agresifitas yang ekstreem (rendah atau tinggi), yang keduanya
mempunyai motivasi negatif. Namun kriteria ini tidak cocok atau tidak sesuai
untuk kepribadian lain seperti intelegensi sebab kendati sama-sama abnormal
namun sifat genius jelas mempunyai nilai positif. Sedangkan sifat idiot
mempunyai nilai negatif.
- Penyimpangan dari norma sosial
Menurut
kriteria ini, sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. Dimana
apa saja yang umum atau lazim adalah sesuatu yang normal. Terkadang di
masyarakat terdapat suatu patokan yang pengandaiannya masih di ragukan
kebenarannya. Pengandaian tersebut adalah apa yang dilakukan oleh mayoritas
atau sebagian besar masyarakat maka hal itu selalu dikatakan baik dan benar.
- Gejala “salah suai” (maladjusment)
Abnormalitas
di pandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi menanggapi,
menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik dan sosial. Hal
semacam ini jelas bersifat negatif, yang berarti tidak memperhitungkan bahwa
individu dapat berpenyesuaian baik (well
adjusted) tanpa memanfaatkan atau mengembangkan kemampuannya. Tidak sedikit
orang yang di bilang “berhasil” dalam menjalani hidup, namun sebagai pribadi tidak
berkembang secara maksimal.
- Tekanan batin
Abnormalitas
dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih, atau perasaan
bersalah yang mendalam. Namun ini bukan merupakan patokan yang baik untuk
membedakan perilaku normal dari yang abnormal. Jika tekanan batin yang
dirasakannya tak berkesudahan, mungkin merupakan indikasi bahwa ada sesuatu
yang tidak beres. Tetapi bila ada seseorang merasa sedih karena terkena musibah,
kekecewaan itu normal. Dan bila ada seseorang yang merasa gembira setelah ditinggal
oleh orang yang disayangi, maka seseorang tersebut ddapat dikatan aneh sebab ia
bersikap tidak wajar.
- Ketidakmatangan
Seseorang
dapat dikatakan abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya.
Namun terkadang kita sering sulit untuk menemukan patokan tentang kemetangan
itu sendiri.
Untuk
dapat lebih memahami mengenai ciri-ciri normal dan abnormal, berikut terdapat
contoh kasus:
Landa
berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun.
Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama
suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain.
Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotekstif. Subjek
selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak
berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan
kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya
tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.
Menurut
kamu kasus di atas termasuk dalam normal atau abnormal ???
Okee,
kita coba bahas dengan kriteria atau ciri-ciri yang telah dijelaskan
sebelumnya...
Dari
contoh kasus di atas kita dapat mengidentifikasi bahwa Landa termasuk dalam
perilaku abnormal sebab Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang
berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya
dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Landa masuk
pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin yang telah dipaparkan
sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter
dan overprotekstif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan
pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini
jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan
pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat
yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu, kriteria yang berikutnya
yaitu Gejala “salah suai” (maladjusment) yang di sebabkan oleh ketidakefektifan
individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan
fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang
mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif. Sehingga subjek merasa tidak
bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam hal
ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang
otoriter dan overprotekstif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat
melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun mungkin tidak banyak
dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya
tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi
dalam perkawinannya.
Referensi:
Ardani Ardi Tristiadi, M. Si. Psi. 2011.
“Psikologi Abnormal”. Bandung: Lubuk Agung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar