Minggu, 19 Februari 2012

Identifikasi Kasus Psikologi Abnormal


Identifikasi Kasus Psikologi Abnormal
Sebelum kita dapat menentukan apakah seseorang tersebut dapat dikatakan normal atau abnormal, hendaknya kita perlu mengetahui beberapa ciri atau kriteria mengenai perilaku normal dan perilaku abnormal itu sendiri. 

Berikut beberapa ciri atau kriteria yang dapat membedakan antara perilaku normal dan perilaku abnormal:

Beberapa ciri orang yang sehat-Normal:

Aspek Penyesuaian Diri
Ciri Perilaku
Sikap terhadap diri sendiri
Menunjukan penerimaan diri; memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
Persepsi terhadap realitas
Memiliki pandangan yang realistis terhadap diri sendiri dan terhadap dunia orang maupun benda di sekelilingnya.
Integrasi
Bekepribadian utuh, bebas drai konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stress.
Kompetensi
Memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai problema hidup.
Otonomi
Memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri (self-determination, self direction) yang memadai disertai kemempuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
Pertumbuhan aktualisasi diri
Menunjukan kecenderungan ke arah menjadi semakin matang, kemampuannya, dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi.

Dan beberapa kriteria abnormalitas yaitu: 
  • Penyimpangan dari norma-norma statistik
Abnormal merupakan sesuatu yang tidak lazim, atau secara harafiah yang menyimpang dari norma. Hal ini disebabkan karena hampir setiap kepribadian dapat kita gambarkan seperti sebuah kurva normal dimana terdapat dua arah yaitu kanan yang berarti positif dan kiri yang berarti negatif. Sebagai contoh, seperti sifat agresif dimana semakin jauh dari nilai rata-rata baik arah kiri maupun kanan, kita dapat menemukan agresifitas yang ekstreem (rendah atau tinggi), yang keduanya mempunyai motivasi negatif. Namun kriteria ini tidak cocok atau tidak sesuai untuk kepribadian lain seperti intelegensi sebab kendati sama-sama abnormal namun sifat genius jelas mempunyai nilai positif. Sedangkan sifat idiot mempunyai nilai negatif. 
  • Penyimpangan dari norma sosial
Menurut kriteria ini, sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. Dimana apa saja yang umum atau lazim adalah sesuatu yang normal. Terkadang di masyarakat terdapat suatu patokan yang pengandaiannya masih di ragukan kebenarannya. Pengandaian tersebut adalah apa yang dilakukan oleh mayoritas atau sebagian besar masyarakat maka hal itu selalu dikatakan baik dan benar.
  • Gejala “salah suai” (maladjusment)
Abnormalitas di pandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik dan sosial. Hal semacam ini jelas bersifat negatif, yang berarti tidak memperhitungkan bahwa individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa memanfaatkan atau mengembangkan kemampuannya. Tidak sedikit orang yang di bilang “berhasil” dalam menjalani hidup, namun sebagai pribadi tidak berkembang secara maksimal.
  • Tekanan batin
Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih, atau perasaan bersalah yang mendalam. Namun ini bukan merupakan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal. Jika tekanan batin yang dirasakannya tak berkesudahan, mungkin merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi bila ada seseorang merasa sedih karena terkena musibah, kekecewaan itu normal. Dan bila ada seseorang yang merasa gembira setelah ditinggal oleh orang yang disayangi, maka seseorang tersebut ddapat dikatan aneh sebab ia bersikap tidak wajar.
  • Ketidakmatangan
Seseorang dapat dikatakan abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya. Namun terkadang kita sering sulit untuk menemukan patokan tentang kemetangan itu sendiri. 

Untuk dapat lebih memahami mengenai ciri-ciri normal dan abnormal, berikut terdapat contoh kasus:

Landa berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotekstif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.

Menurut kamu kasus di atas termasuk dalam normal atau abnormal ???

Okee, kita coba bahas dengan kriteria atau ciri-ciri yang telah dijelaskan sebelumnya...

Dari contoh kasus di atas kita dapat mengidentifikasi bahwa Landa termasuk dalam perilaku abnormal sebab Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Landa masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin yang telah dipaparkan sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu, kriteria yang berikutnya yaitu Gejala “salah suai” (maladjusment) yang di sebabkan oleh ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif. Sehingga subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotekstif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun mungkin tidak banyak dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.

Referensi:
Ardani Ardi Tristiadi, M. Si. Psi. 2011. “Psikologi Abnormal”. Bandung: Lubuk Agung

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar