Pola
Asuh Patogenik
Setiap orang tua memiliki pola asuh
yang berbeda-beda pada setiap anaknya. Ada beberapa macam pola asuh yaitu pola
asuh yang otoriter, demokratis, patogenik dan lain sebagainya. Kita akan coba
membahas mengenai pola asuh patogenik, yaitu pola asuh yang sakit atau tidak
sehat untuk anak karena itu dapat menyebabkan anak menjadi memiliki pola perilaku
yang menyimpang nantinya. Berikut adalah kriteria pola asuh patogenik:
1. Melindungi
anak secara berlebihan karena memanjakannya.
Pada
kriteria ini, orang tua cenderung untuk bersikap over protektif pada anaknya sehingga membuat anak dapat bersikap
seenaknya dan tidak dapat menghargai orang lain. Dan ini merupakan salah satu kriteria
yang juga bisa membuat anak tidak dapat membedakan antara mana yang salah dan
mana yang benar karena apa yang dilakukan sang anak selalu dapat dibenarkan
oleh orang tua yang terlalu memanjakannya.
2. Melindungi
anak secara berlebihan yang tujuannya untuk berkuasa.
Pada
kriteria ini, orang tua cenderung bersikap berkuasa sehingga anak merasa tidak
leluasa atau terkekang dengan perlindungan yang orang tuanya berikan secara
berlebihan. Misalnya: orang tua yang selalu bertanya anaknya sedang berada
dimana, dengan siapa, sedang melakukan apa dan diminta untuk segera pulang.
3. Penolakan.
Pada
kriteria ini, orang tua yang tidak menginginkan keberadaan sang anak sehingga
orang tua bersikap acuh tak acuh dan menganggap anak itu tidak ada didekatnya
atau disekitarnya. Misalnya adalah anak yang diperoleh dari hubungan gelap atau
anak yang diperoleh dari hubungan di luar nikah.
4. Menentukan
norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi.
Pada
kriteria ini, orang tua mendidik anak-anak mereka dengan norma-norma, etika dan
moral yang terlalu tinggi. Sebagai contoh, anak yang tinggal di lungkungan
keluarga yang memiliki religiusitas yang tinggi, maka anak tersebut tidak di
izinkan untuk berpacaran oleh orang tuanya karena di dalam Islam tidak mengenal
pacaran.
5. Disiplin
yang terlalu keras.
Pada
kriteria ini, orang tua cenderung memberikan aturan-aturan yang membuat anak
merasa tidak memiliki suatu kebebasan dalam menjalani kehidupannya. Sebagai contoh,
orang tua yang meminta anaknya untuk mengikuti berbagai macam les di luar
sekolah sehingga anak tidak mempunyai waktu untuk bermain atau bahkan mungkin
hanya berkumpul dengan teman-temannya. Bagaimanapun seorang anak harus
diberikan waktu untuk bermain dengan temannya walaupun hanya sebentar karen
adengan begitu dapat memantu anak dalam hal bersosialisasi.
6. Disiplin
yang tidak teratur atau bertentangan.
Pada
kriteria ini, orang tua selalu memberikan anak aturan-aturan yang berbeda-beda
atau berubah-ubah, sehingga anak merasa binggung manakh aturan yang sebenarnya
orang tuanya buat. Sebagai contoh, dalam hal berteman di satu sisi ibu
memberikan kebebasan pada anaknya untuk berteman dengan siapapun tetapi ayah
tidak mengizinkan anaknya untuk berteman dengan anak-anak yang tidak
berprestasi.
7. Perselisihan
antara ayah – ibu.
Pada
kriteria ini, orang tua diharapkan untuk tidak memperlihatkan perselisihan yang
terjadi di depan anak sebab akan membuat anak menjadi merasa tertekan. Sebagai contoh,
jika orang tua sedang ada masalah dapat diselesaikan atau dibicarakan di kamar
agar anak tidak melihatnya, karena permaslahan yang terjadi pada orang tua
alangkah baiknya anak tidak perlu tahu atau melihatnya secara langsung.
8. Perceraian.
Pada
kriteria ini, orang tua yang bercerai dapat memberikan dampak buruk untuk anak.
Karena perceraian dapat membuat anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang
ataupun perhatian yang penuh dari kedua orang tuanya dan satu hal yang mungkin
sulit untuk anak adalah ketika mereka berada pada posisi untuk memilih apakah harus
ikut dengan ayah atau ibu.
9. Persaingan
yang kurang sehat diantara para saudara.
Persaingan
yang kurang sehat ini dapat terjadi sebab orang tua seringkali
membanding-bandingkan antara anak yang satu dan lainnya, terlebih jika anak
pertama memiliki prestasi yang lebih baik dibanding anak lainnya maka orang
tuaakan lebih membanggakan anak pertama yang memiliki prestasi yang lebih baik.
Walaupun sebenarnya setiap anak memilki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing baik dalam bidang akademik ataupun non akademik.
10. Nilai-nilai
yang buruk (tidak bermoral).
Orang
tua yang tidak dapat dijadikan panutan merupakan orang tua yang tidak dapat
memberikan contoh yang baik terhadap anak-anaknya. Misalnya orang tua yang suka
memarahini anaknya dengan mengeluarkan kata-kata binatang ataupun kata kasar
lainnya.
11. Prefeksionisme
dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi anak).
Orang
tua yang memilki ambisi yang terlalu besar terhadap anaknya, yang sebenarnya
anak belum tentu mampu untuk mencapai ambisi yang diinginkan oleh orang tuanya.
Sebagai contoh, orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang dokter akan
tetapi orang tua tidak melihat kemampuan anak apakah ia mampu atau tidak. Maka anak
hanya akan merasa tertekan dan terbebani.
12. Ayah
atau ibu mengalami gangguan jiwa.
Orang
tua yang mengalami gangguan jiwa akan berdampak negatif untuk anak dan
mempengaruhi perkembangan anaknya sebab orang tua tersebut tidak dapat
mengajarkan mana yang baik dan benar.
Referensi:
Akbar, Zarina. materi perkuliahan psikologi abnormal pada tanggal 05 maret 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar