Clinical Case Studies
Sharon L. Feeney
New York Presbyterian Hospital, Weill Cornell Medical Center
Abstract: Mary berusia 35 tahun, menikah, seorang wanita Kaukasian
yang seedang menjalani pengobatan dengan keluhan kecemasan dan panik ketika
dalam situasi berikut: menulis di depan umum, dalam situasi tempat kerja, dan
pergi ke dokter. Ketika dalam situasi ini, dia akan menunjukan kegelisahan dan
malu. Karena rasa takut ini, ia menghindari situasi-situasi yang ada di
sekitarnya. Mary di diagnosis dengan social phobia dan sudah menjalani 31 sesi
terapi individu dan terapi kognitif-perilaku. Treatment yang di jalani adalah
self monitoring, latihan pernapasan, dan graduated eksposure. Setelah diberi
treatment, Maria tidak lagi memenuhi kriteria social phobia dan menunjukan
perbaikan di berbagai bidang termasuk menurunkan pengalaman subyektif dari
kecemasan, tindakan menghindar berkurang, dan berkurangnya gejala fisiologis
yang berkaitan dengan kecemasan. Kasus ini
disajikan sebagai contoh penggunaan prinsip-prinsip kognitif-perilaku dalam
pengobatan social phobia.
Analisis:
Menurut DSM IV TR Mary mengalami
social phobia. Mary mengalami ciri-ciri patologis kecemasan diantaranya
gemetar, tangan yang berkeringat, detak jantung yang berdebar semakin cepat dan
sering kali merasa malu dengan dirinya sendiri sehingga membuatnya merasa tidak
nyaman.
Ciri-ciri Abnormal:
1. Disfungsi
Psikologis: Dimana seseorang tidak mampu untuk menjalani peran atau fungsinya
dalam kehidupannya atau kesehariannya. Meliputi aspek kognitif, afektif dan
psikomotor.
Kognitifnya: Mary mempunyai kecemasan
terhadap keadaan menulis di depan umum, dalam situasi tempat kerja dan takut
untuk pergi ke dokter. Hal ini menyebabkan mary untuk menghindari situasi
sosial yang ada di sekiatarnya, apabila Mary berada pada situasi-situasi tersebut maka Mary akan merasa bahwa semua orang yang didekatnya menatapnya atau memperhatikannya.
Afektifnya: ketika Mary berada dalam
situasi atau posisi yang membuatnya mengalami kecemasan mary merasa malu dan
tidak nyaman, karena ia merasa telah melakukan suatu hal yang membuat semua
orang melihat ke arahnya.
Psikomotornya: Mary selalu merasa
gemetar, tangannya berkeringat, dan jantungnya berdebar lebih kencang ketika
Mary mengalami kecemasannya yaitu menulis di depan umum, situasi tempat kerja,
dan untuk pergi ke dokter.
2. Impairment
(hendaya): seseorang yang menunjukan pada keadaan dimana ia merusak dirinya
baik secara fisik ataupun psikologis.
Secara fisik: ketika Mary mengalami
kecemasan ia mengalami fluktuasi dengan cepat pada berat badannya (semula
kehilangan 15kg kemudian dengan cepat memperoleh 25kg), mengalami kurang tidur
dengan sering terbangun di pagi hari, kelelahan saat siang hari, dan kesulitan
untuk berkonsentrasi.
Secara psikologis: karena kecemasannya
itu membuat maria menjadi merasa tertekan dan membuatnya menjadi sosok yang
pemalu, pendiam dan gugup.
3. Respon
Actipical: merupakan sesuatu yang tidak diharapkan terkait dengan budaya.
- Mary merasa takut dan cemas ketika harus menulis di depan umum, ini merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan budaya pada umumnya, karena kita tidak mungkin untuk terus-menerus menghindar jika diminta untuk menulis di depan umum.
- Mary merasa gemetar, tangannya berkeringat, jantungnya berdebar lebih kencang ketika berada di ruang tunggu saat pergi ke dokter, ini juga tidak sesuai dengan budaya sebab jika kita sakit kita perlu untuk pergi ke dokter dan memeriksa kondissi kesehatan kita.
Referensi:
Feeneny, Sharon L, The Cognitive-Behavioral
Treatment of Social Phobia. New York Presbyterian Hospital, Weill Cornell
Medical Center.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar