Minggu, 04 Maret 2012

Social Phobia


Clinical Case Studies
Sharon L. Feeney
New York Presbyterian Hospital, Weill Cornell Medical Center

Abstract: Mary berusia 35 tahun, menikah, seorang wanita Kaukasian yang seedang menjalani pengobatan dengan keluhan kecemasan dan panik ketika dalam situasi berikut: menulis di depan umum, dalam situasi tempat kerja, dan pergi ke dokter. Ketika dalam situasi ini, dia akan menunjukan kegelisahan dan malu. Karena rasa takut ini, ia menghindari situasi-situasi yang ada di sekitarnya. Mary di diagnosis dengan social phobia dan sudah menjalani 31 sesi terapi individu dan terapi kognitif-perilaku. Treatment yang di jalani adalah self monitoring, latihan pernapasan, dan graduated eksposure. Setelah diberi treatment, Maria tidak lagi memenuhi kriteria social phobia dan menunjukan perbaikan di berbagai bidang termasuk menurunkan pengalaman subyektif dari kecemasan, tindakan menghindar berkurang, dan berkurangnya gejala fisiologis yang berkaitan dengan kecemasan.  Kasus ini disajikan sebagai contoh penggunaan prinsip-prinsip kognitif-perilaku dalam pengobatan social phobia.   

Analisis:
Menurut DSM IV TR Mary mengalami social phobia. Mary mengalami ciri-ciri patologis kecemasan diantaranya gemetar, tangan yang berkeringat, detak jantung yang berdebar semakin cepat dan sering kali merasa malu dengan dirinya sendiri sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.

Ciri-ciri Abnormal:

1. Disfungsi Psikologis: Dimana seseorang tidak mampu untuk menjalani peran atau fungsinya dalam     kehidupannya atau kesehariannya. Meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Kognitifnya: Mary mempunyai kecemasan terhadap keadaan menulis di depan umum, dalam situasi tempat kerja dan takut untuk pergi ke dokter. Hal ini menyebabkan mary untuk menghindari situasi sosial yang ada di sekiatarnya, apabila Mary berada pada situasi-situasi tersebut maka Mary akan merasa bahwa semua orang yang didekatnya menatapnya atau memperhatikannya.

Afektifnya: ketika Mary berada dalam situasi atau posisi yang membuatnya mengalami kecemasan mary merasa malu dan tidak nyaman, karena ia merasa telah melakukan suatu hal yang membuat semua orang melihat ke arahnya.

Psikomotornya: Mary selalu merasa gemetar, tangannya berkeringat, dan jantungnya berdebar lebih kencang ketika Mary mengalami kecemasannya yaitu menulis di depan umum, situasi tempat kerja, dan untuk pergi ke dokter.  

2. Impairment (hendaya): seseorang yang menunjukan pada keadaan dimana ia merusak dirinya baik secara fisik ataupun psikologis.

Secara fisik: ketika Mary mengalami kecemasan ia mengalami fluktuasi dengan cepat pada berat badannya (semula kehilangan 15kg kemudian dengan cepat memperoleh 25kg), mengalami kurang tidur dengan sering terbangun di pagi hari, kelelahan saat siang hari, dan kesulitan untuk berkonsentrasi.

Secara psikologis: karena kecemasannya itu membuat maria menjadi merasa tertekan dan membuatnya menjadi sosok yang pemalu, pendiam dan gugup.

3. Respon Actipical: merupakan sesuatu yang tidak diharapkan terkait dengan budaya.
  • Mary merasa takut dan cemas ketika harus menulis di depan umum, ini merupakan sesuatu yang tidak sesuai dengan budaya pada umumnya, karena kita tidak mungkin untuk terus-menerus menghindar jika diminta untuk menulis di depan umum.
  • Mary merasa gemetar, tangannya berkeringat, jantungnya berdebar lebih kencang ketika berada di ruang tunggu saat pergi ke dokter, ini juga tidak sesuai dengan budaya sebab jika kita sakit kita perlu untuk pergi ke dokter dan memeriksa kondissi kesehatan kita.

Referensi:
Feeneny, Sharon L, The Cognitive-Behavioral Treatment of Social Phobia. New York Presbyterian Hospital, Weill Cornell Medical Center.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar